KEMANDIRIAN DALAM MAKNA DAN REALITAS
Oleh : Herfina, SH
Tiada ketidakmampuan dalam kerangka belajar.
Tiada ketidakmungkinan dalam kerangka berusaha.
Tiada yang mudah tanpa mengerti.
Tiada yang nyata tanpa melakukan.
Sedemikian pentingnya ilmu dan berharganya tindakan.
Berangkat dari ketidaktahuan kita hendak mencari tahu. Tidak hanya ilmu tertentu yang hendak kita cari tahu saja, yang perlu dikuasai, melainkan juga mengetahui “ilmu pencarian” atas ilmu itu sendiri yang belum lagi kita ketahui, adalah mutlak dikuasai. “Ilmu pencarian” itu sendiri telah menjadi penghantar pencarian untuk menimba ilmu mengerti diri sendiri, orang lain dan paham tentang lingkungan sekitar.
Pembelajaran demi pembelajaran adalah proses terbukanya pintu gerbang satu ke pintu gerbang lain, demi meraih hasil nyata yang semula hanya bermuarakan harapan yang belum pasti atau mimpi yang belum nyata, menuju tujuan hidup sejati.
Sayangnya, seringkali pembelajaran itu sendiri kerap kali terbentur soal lain yang tidak terdapat dalam soal-soal ujian pembelajaran yang sedang kita geluti. Istilah “seni pembelajaran” termasuk dalam kerangka pencarian (ilmu pencarian) guna menuntut ilmu dan merealisasikan keinginan atas suatu ilmu, mungkin demikian lebih pantas kita sebut, ketimbang sebutan batu sandungan. Karena di situ pulalah ilmu itu sendiri berasal dan akan bermuara. Tragis memang sepertinya, bila tumpukan soal kemarin belum lagi selesai digarap lantas harus hadir soal baru kemudian, sesudah itu soal demi soal bahkan soal-soal demi soal-soal itu selalu hadir mengikuti untuk minta segera diselesaikan, hidup memang harus dengan kesungguhan sebab hidup itu adalah nyata dan yang nyata memang harus dihadapi bukan untuk dielakkan. Skala proritas, memudahkan berpikir sistematis dan terencana. Mampu membuat pilihan dan konsisten menjalankan dengan segenap keberanian tentunya akan lekat dengan resiko dan konsekuensi serta tanggung jawab yang tidak sederhana.
Karenanya tidak dapat ditawar lagi, bahwa menghadapi soal-soal hidup sebagai bentuk perjuangan harus berangkat dari dalam diri sendiri dahulu baru kemudian keluar. Dan sebagai wujud kesiapan serta kesigapan menjalankan tantangan demi tantangan diawali dengan keteguhan tekad untuk memulai melangkah sekarang juga tanpa perlu menunda. “Tidak bergantung” melainkan “berdiri tegap” adalah konsep baku bagi kaki-kaki yang hendak melangkah menapakkan jejaknya ke bumi. Bukanlah hanya menguasai teori tentang bagaimana cara berdiri tegap, sementara posisi sedang terkulai atau bahkan tertidur pulas, namun mempraktekkan kaki-kaki berdiri dengan tegap adalah ujian sesungguhnya atas kebenaran teori berdiri tegap dan atas kemampuan diri pada suatu yang diteorikannya. Kemudian di balik itu, jangan terhenyak bilamana posisi berdiri dan melangkahnya kaki yang tengah dilakukan pun akan dihadapkan pada banyak respon baik positif maupun negatif sebagai kontrol dari dalam diri dan luar diri termasuk lingkungan sosial masyarakat, itu merupakan ujian selanjutnya untuk kembali menguji atas keabsahan teori dan kelangsungannya. Ada banyak kemungkinan mengapa selektifitas terjadi; pertama, bukan berangkat dari soal yang salah, mungkin jawabannya yang belum tepat; atau kedua, bukan berarti jawabannya yang salah, mungkin soalnya yang terlalu dini dilontarkan, yang pasti tidak ada yang perlu dipersalahkan dan dijadikan kambing hitam, sebab apapun itu tetap harus dihadapi. Pertanyaannya sekarang, apakah hendak memberi soal atau menawarkan jawaban ? Yang jelas keduanya yaitu soal dan jawaban akan saling berhadapan satu sama lain dan bermunculan satu dengan lainnya, bila ingin dinamisasi hidup terus bergulir.
Bergulirnya dinamisasi hidup yang diharapkan adalah selalu tertuju ke arah perbaikan. Arah perbaikan bermula dari kemandirian yang harus dimiliki lebih dahulu. Mengapa ? Karena akan lahir pertanyaan dinamisasi hidup seperti apa pada dasarnya sungguh-sungguh diinginkan ? Memilih sendiri dengan konsekuensi ataukah dipilihkan dengan kompensasi ? Berbekal kemandirian, kedinamisan hidup menjadi lebih beradab dalam kemerdekaannya. Bermodal kemandirian, pilihan akan menjadi lebih leluasa hidup dalam keberadabannya. Bersenapan kemandirian, pertahanan diri menjadi lebih kuat dan berumur panjang dalam keluasannya. Bersenandung kemandirian bersama bangsa, maka keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan hidup menjadi kado yang layak sebagai jaminan hidup masyarakat sepanjang usianya tanpa perlu mengkhawatirkan lahirnya konsekuensi maupun kompensasi yang berlebihan serta berkepanjangan dan tidak berkesudahan dari campur tangan pihak lain.
Jelas sudah, apa sebenarnya hubungan ilmu dan seni pembelajaran serta perjuangan dan dinamisasi hidup dengan kemandirian ?
Seperti disinggung di atas, pantas rasanya menunjuk kemandirian sebagai momentum lahir, berjalan serta bergulirnya ilmu dan seni pembelajaran; demikian juga menunjuk ilmu dan seni pembelajaran sebagai tonggak pencarian, penciptaan serta perebutan kemandirian. Pantas pula rasanya menuduh kemandirian sebagai gara-gara munculnya huru-hara perjuangan dan dinamisasi hidup; demikian juga menuduh perjuangan dan dinamisasi hidup sebagai kambing hitam munculnya tuntutan kemandirian.
Mandiri Vs Tidak Mandiri (Bergantung) = Prihatin Vs Tidak Prihatin (Serba Ada) ?
Suatu istilah yang saling kontroversi coba dilempar untuk secara dialektis mendapat kajian yang lebih matang dan mendasar pada substansi kejuangan dan kedinamisan hidup. Yaitu dalam rangka membangun waduk-waduk mandiri dan menjebol tanggul ketidakmandirian yang ada. Terkesan menghantam memang, namun tidak harus hantam kromo. Bedanya hanya sekarang atau besok. Sebab taruhannya hanya 1, yaitu tidak mungkin tidak terjadi, itu mustahil, sebab segala yang rapuh pasti runtuh, semua hanya bicara soal waktu saja seperti layaknya bom waktu yang makin marak issue nya. Rapuh bagaimana ? Tiada yang abadi sepanjang masih ada ketergantungan membelitnya, tiada yang tanpa ketergantungan sepanjang belum tercipta kemandirian memayunginya, tiada kemandirian sepanjang labilnya kehendak mewujudkan mengelabuinya dan tiada wujud nyata sepanjang miskinnya keberanian memperjuangkan menghantuinya serta tiada perjuangan yang berhasil sepanjang kebersamaan hanyalah sebuah slogan belaka sedang keprihatinan hanya menjadi milik sebagian golongan saja. Bagaimana menurut anda ?
Manakah pilihan anda; mandiri meski prihatin ? atau serba ada mesti bergantung ? atau mandiri dan juga serba ada ? atau bergantung namun tetap prihatin ?
Lantas hendak mencari apakah anda; kemapanan di balik keprihatinan ? ataukah anti kemapanan padahal nyaris serba ada ?
Dari mana harus memulai kemandirian ? Tanpa henti-hentinya mengkaji sampai berhasil mendapati akan hal apa sebenarnya yang harus menjadi skala prioritas kemandirian bangsa namun juga yang paling sesuai dengan karakter dan budaya serta kekayaan juga sumber daya bumi pertiwi ini, dari program demi program, langkah demi langkah dan proses demi proses serta hingga cara demi cara, guna pencapaian kemakmuran dengan sebuah tonggak kemandirian serta pencapaian tujuan dan cita-cita bangsa dengan penuh kehormatan. Kajian demi kajian dan ujian demi ujian serta praktek demi praktek atas pekerjaan rumah tersebut, sudah selayaknyalah menjadi kebutuhan primer yang dikonsumsi terlebih dahulu oleh kaum akademik generasi bangsa sebagai suatu formula yang dirasa sangat bijaksana dalam mengawalinya, untuk kemudian rela berjalan seiring dan seirama bersama-sama seluruh rakyat Indonesia sendiri meski dalam wajah-wajah keprihatinan namun penuh kebahagiaan menuju puncak kemenangan berada dalam payung kemandirian dan bertutur sapa di mimbar adil-makmur-sejahtera serta beraksi di atas panggung kehormatan.