Penitipan Nasib*

Posted in Naskah with tags on June 9, 2009 by feenakoe

I. Int. Ruang Tamu – Malam.

Suasana rumah terdengar begitu riuh, berisik nggak karuan, lantaran tiga orang anak kecil yang usianya belum lagi genap tujuh tahun, merengek penuh isak tangis dan berteriak tak henti-henti saling sambung-menyambung. Tampak seorang wanita dengan pakaian yang sangat sederhana sedang berusaha menghentikan tangis dan meninabobokkan anak-anaknya yang sedang rewel tersebut, di balai bambu.

Buyung, Bejo & Parto

“Ma’.., laper…, makan ma’… Ma’…, ayo ma’ makan… laper ma’….. hu… hu… hu…”
(terus diucapkan berkali-kali tanpa henti sementara Buyung hanya bisa menangis)

Narti

(di sela-sela tangis anaknya sambil membelai rambut anak-anaknya)
“Iya nak.., besok pagi yah.. Sekarang tidur dulu… iya… besok…, iya…. tidur dulu lah nak, biar laparnya hilang, Ibu sudah nggak punya apa-apa untuk bisa kalian makan hari ini nak.”

Kemudian ia beranjak dari balai bambu, meninggalkan anaknya yang masih merengek tersebut. Menuju dapur mengambil air putih dalam gelas-gelas besar.
Sementara itu, tampak seorang laki-laki dewasa membuka pintu rumah itu dan melangkah masuk lantas merebahkan separuh tubuhnya di kursi di ruang tamu dalam keadaan letih yang teramat sangat.

Narti

(sembari meletakkan gelas-gelas itu di meja pada tepian balai bambu)
“Dari mana aja sih Pak ? Anak di rumah nangis melulu kayak gini. Ini malah ngeluyuur… terus.”
(di sela-sela tangis)
“Diminum dulu airnya nak buat mengganjal perut laparmu.”
Anaknya tetap saja terus menangis tanpa menghiraukan nasehat ibunya, kecuali si Buyung. Ia meminum air seteguk demi seteguk dari gelas yang di sodorkan ibunya, hingga air dalam gelas itu habis.
(sembari terus meladeni buyung minum)

“Pak.., ngapain aja tho, seharian koq nggak di rumah ! Bapak bawa apaan untuk anak-anak, mereka lapar.”

Gimin

“Aduuh…, pusing ah, nggak ada pembicaraan yang lain apa ?! Bikinin kopi bu’ !”

Narti

“Kopi apaan ! nggak ada, abis! gula juga nggak punya. Sana minta dulu sama tetangga! Seharian kabur-kaburan sama Otong tanpa hasil apa-apa, pulang minta disediain macam-macam. Uang dari mana, ngerampok?”

Gimin

“Ibu ini gimana sih ! Uang yang kemaren nggak cukup apa ?”

Narti

(dengan nada penekanan tapi tetap pada intonasi yang merendah)
“Uang yang mana ?! Jangan ngaco’ pak. Kalo’ ibu nggak nyuci di rumah Nyonya Tine di kampung seberang sana, udah dari kemaren-kemaren kita nggak makan. Anak-anak bisa sakit. Jatah makan kemaren, memang bapak pikir darimana? itu dari hasil keringat ibu, pa’. Apa ada uang bulanan dari bapak, khusus buat makan anak-anak?! Mana ?”

Gimin

(geram, dengan nada agak tinggi dan suara keras)
“Ha.. sudah.. sudah… sudah ! Mana uang hasil jualan tv nya otong, yang pernah saya kasih kemaren ! Itu nggak dihitung?! Dasar perempuan, apa juga diocehin, jaga tuh mulut kalo’ bicara!”

Narti

“Ya.. ampun pa’, itu udah 2 minggu yang lalu bapak ngasih ke ibu, itu juga cuma 30.000 doang. Cukup buat beli apa sih pak ? Beli kopi?, beli teh?, beli gula? Iya.., entar kita nggak makan, trus anak kita mau dikasih apa?, batu?! Sekarang aja, anak-anak, ibu suruh puasa dulu, makan sedikit-sedikit. Lihat tuh anaknya nangiiis terus, nggak berhenti2. Terus mau gimana ?”
Dibalas dengan raut wajah cueknya Gimin, ia seperti tidak hendak mendengar ocehan Narti.
(sambil mendekat, Narti berbicara lebih lunak)

“Iya.. maafin ibu pa’. Habis bapak ini lucu, datang-datang koq langsung minta kopi, lha wong anak kita aja kelaparan, nangiis terus, mereka minta makan. Ibu sedih pa’, nggak tahu harus bagaimana lagi.”

Gimin

“Hemm… (menghela nafas dan berdehem panjang) Tapi nggak perlu ceramah begitu dong bu’, bapak ini capek, seharian nggak dapat apa-apa. Kalo’ nggak ada ya sudah bilang aja nggak ada, itu sudah cukup. Nggak usah pake’ ngomel apalagi perhitungan begitu. Ambilkan air putih sajalah. Saya haus sekali ini !”

Narti

(sambil ngeloyor ke dapur ngambil minum)
“Masih syukur, kita masih bisa beli minyak tanah, buat masak air pa’, coba kalau nggak?!”
Meninggalkan suaminya yang sedang tak mau diganggu, sendirian ditemani suara anak-anaknya menangis.
Namun tak lama Narti pun kembali ke ruang tamu dengan gelas di tangan kanannya dan teko di tangan kiri. Menghampiri suaminya yang tengah duduk santai.

Narti

(sembari meletakkan gelas dan teko lalu menuangkan airnya untuk disodorkan ke arah suaminya)
“Pa’, sepertinya bapak harus segera dapat kerja beneran deh, biar tangis anak-anak kita berhenti. Agar tidak seperti sekarang, sepanjang malam setiap mereka mau tidur, ibu harus merayu mereka dulu, mendiamkan mereka dari tangisnya, agar bisa terlelap tidur dengan nyenyak.”

Bersamaan….

Gimin

(mengambil gelas yang berisi air dari meja, lalu meneguknya)
“Sabar lah bu’, saya ini keluar rumah juga sambil usaha cari-cari kerjaan, cari obyekkan, si Otong kan temennya banyak. Siapa tahu kecipratan rejekinya. Kayak kemaren, kalau ada rejeki, Otong pasti bagi-bagi ke saya.”

Narti

“Tapi, kan nggak pasti pa’. Maksud ibu yang sudah pasti lah, kerja setiap hari, uang masukan tiap bulan juga pasti ada. Begitu maksudnya.”

Keduanya terdiam sejenak, terdengar…..

Koor Anak2

“Tangismu tangis pertiwi, menangislah dengan kencang agar dunia menatapmu, dunia yang sekarat ini akan bangkit mengulurkan tangan-tangan cintanya, tangannya akan meraihmu dalam dekapan perjuangan abadinya mencari makanan bagi laparnya perut kalian, laparnya harapan kalian, laparnya mimpi kalian dan laparnya cita-cita kalian.
Menangislah dengan kencang agar bunda meneteskan air matanya, sumber air kehidupan bagi anak-anak bangsanya yang tengah terkapar.
Menangislah dengan kencang agar ayahmu berteriak lantang, teriakannya membangunkan sendi-sendi jiwa raganya, menggali segenap kekuataan menantang tafsir “nasib miskin” bagimu anak bangsa.
Kami akan terus menangis, hingga air mata kami habis dan mengering, hingga pertiwi tidak lagi mampu membendung tangis kami, hingga semua tangan terulur mengangkat kami dari lembah lumpur dosa orang tua kami, hingga bangsa ini mengharapkan kami untuk terus hidup dan tumbuh berkembang, hingga dunia terpukau dan tertegun menyaksikan peradaban hebat milik kami kini.”

Koor Anak (a)

(dengan tawa, sementara (b) menangis)
“Sais di sais laju kereta, kuda meringkik tak maju-maju
Tangis menangis engkau meronta, kami terkekeh melihat kau tak berbaju.”

Koor Anak (b)

(dengan wajah haru dan dingin, sementara (a) tertawa)
“Apa?! Kau hina kami karena tak berbaju, kau pikir siapa kau?
Ya.., kami memang orang miskin tapi kami bukan orang kalah.
Bila saatnya tiba, kami akan bersenapan semangat dan berani, berpeluru pintar dan cinta, menantang nasib ‘kemiskinan dan ketertindasan’ kaum papa.
Namun sebaliknya apa yang bisa kau persembahkan untuk kemanusiaan, kalian pun korban cetakan ‘pemuasan nafsu’ orang tua kalian, hingga kalian pun menjadi manja, sombong dan egois.”

“Air mengalir ke lembah dangkal, tiada laut sungai pun tak apa
Apa gerangan engkau terpingkal, tak tahukah kau pun korban tiada rupa”

Koor Anak (a)

(dengan menangis, sementara (a) bersedih)
“Korban…, korban…, ya kami sadar kami pun juga korban.
Korban pembodohan dan korban ketergantungan serta korban nafsu serakah orang tua kami yang terus saja tak henti-hentinya mengeruk materi besar-besaran demi pemenuhan gudang harta karun keluarga, tanpa melihat bahwa kalian pun membutuhkan hal yang sama seperti kami, seperti mereka para orang tua.”

“Bulan di malam, matahari di siang
Bagi kami kelam, manakala kami tak riang”

Koor Anak (b)

(sementara (a) dan (b) terharu)
“Siapa orang hendak berburu, pergi ia ke dalam hutan
Siapa yang melihat kami tak terharu, pastilah ia sebangsa setan”

Koor Anak (a) & (b) bersama-sama

“Silang saling selisih tak tertahan, tiada berujung dan tiada berpangkal
Silahkan simpan semua keserakahan, tiadakan kemiskinan nurani dan akal
Seribu tahun kakek menua, bilangan rambutpun tiada beruban
Seribu cara takkan berarti jua, bila kami tetap saja menjadi korban”

Suara tangis anak-anak Narti mulai melemah, lambat laun perlahan-lahan menghilang.

Narti

(dengan nada teramat haru)
“Bapak dengar suara-suara mereka. Suara itu selalu menghantui ibu pak, saya takut.., sungguh teramat takut.”

Gimin

“Ibu pikir, saya juga tidak takut apa? Justru saya yang paling merasakan ketakutan itu ketimbang ibu, tapi saya toh tidak harus melulu menunjukkan ketakutan itu di depan ibu dan anak-anak. Karena walau bagaimanapun juga sayalah bapak mereka, kepala rumah tangga ini, yang paling bertanggung jawab atas masa depan anak-anak, bu’. Saya tidak dapat membayangkan, bagaimana bila mereka mengadakan protes atau demo atau aksi bunuh diri seperti di televisi-televisi hanya sebab siksaan berat yang mereka rasakan selama ini. Siapa yang akan merasa paling berdosa bu’, kalau bukan saya. Saya merasa gagal mengemban amanat dan tanggung jawab ini. Saya merasa telah menjadi makhluk yang paling lemah sekaligus paling bodoh saat ini. Bagaimana kalau mereka meminta pertanggungjawaban kita, bu’. “

Narti

“Ya.., saya melahirkan mereka, namun tak bisa menghidupi mereka, lalu untuk apa mereka dilahirkan, kalau hanya untuk kita siksa. Kita tularkan penderitaan kita pada tubuh mereka yang tak berdosa, kita tumpahkan ketakberdayaan dan kedunguan kita pada kepala mereka, kita limpahkan beban teramat berat di pundak mereka, kita tuangkan segala keluh kesah dan susah kita pada jiwa mereka, kita jejalkan emosional kita pada keluguan sikap mereka. Jangan-jangan pertanyaan itu akan muncul dibenak mereka pak? Dan akan mengganggu mental psikologis mereka nanti, bahkan ngerinya akan merusak pola pikir, moral dan hati mereka. Itu kan parah jadinya, Ibu takut pak.”

Gimin

“Entahlah bu’. Semoga akan tiba saatnya saya akan menjadi manusia yang kuat dan pintar untuk mengangkat penderitaan mereka. Suatu saat kelak, saya yakin hari itu pasti akan datang, meski tak tahu kapan. Entah kapan.”

Narti

“Semoooga..lah (dengan tanpa harapan). Oya..bapak tahu kan? Mulai besok Nyonya Tine sudah harus pindah rumah, jadi saya nggak lagi kerja di sana dan nggak dapat gaji lagi darinya, karena gaji bulan ini sudah ibu minta semuanya, seminggu yang lalu. Dan sekarang ibu sudah nggak pegang uang sama sekali, kecuali bekal makanan kita dan anak-anak buat tiga hari kedepan, itupun sudah tinggal sedikit sekali, entah cukup atau tidak.”

Gimin

“Terus bagaimana, harus cari kerja ke mana lagi? zaman lagi susah begini bu’. “

Narti

“Yang susah ya susah, yang senang ya senang pak. Apa memang sudah nasib kita turun temurun jadi orang susah kali ya. Jangan-jangan anak-anak kita juga bakalan jadi orang susah lagi pak kayak kita. Aduh jangan lah, kasihan mereka, jadi korban ketidakmampuan orang tua nya.”

Gimin

“Sebenarnya sih ya nggak begitu. Kalau kita mau sedikit usaha lebih keras lagi, barangkali aja ada jalan keluar bu’. Bapak terlalu yakin tentang satu hal itu sih bu’.”

Narti

“Iya, zaman sih nggak ada yang susah, orang-orang nya saja yang nyusahin jadinya pada kesusahan sendiri-sendiri. Tapi kalau susah terus ya… repot. Di mana letak keadilannya? Yang kaya tambah kaya saja, eh.. yang miskin kayak kita semakin menjadi-jadi miskinnya.”

Gimin

“Biar besok, pagi-pagi sekali saya ke rumahnya pak Komar.”

Narti

“Siapa dia ?”

Gimin

“Dia itu bos ojek, siapa tahu dia masih butuh supir ojek buat motor-motornya.”

Narti

“Oh.. iya pak, kalau ibu nggak salah ingat. Kata orang-orang, kemaren bapak Roso abis beli tanah lagi di kampung sebelah buat lahan sawahnya, berapa hektar gitu, katanya.”

Gimin

(sembari menuang minuman)
“Memangnya kenapa bu?”

Narti

“Lha dia kan bos tanah, barangkali dia butuh buruh tani buat tanah garapannya yang baru. Coba saja pak. Semoga ini bukan kabar burung, kalau benar begitu khan lumayan pak, bisa numpang hidup sama dia. “

Gimin

“Menurut ibu, enakkan kemana? pak Komar atau pak Roso?…. tukang ojek, apa petani penggarap?”

Narti

“Ya.., kalau ibu sih mendingan ke Pak Roso. Soalnya kalau jadi buruh tani, paling tidak kebutuhan pokok kita untuk makan beras dapat terpenuhi lah pa’, anak-anak bisa makan yang bener setiap hari tanpa merasa tersiksa sakit perut gara-gara lapar kayak sekarang ini, belum lagi uang bulanannya bisa ditabung buat sekolah anak-anak besok. Iya kan pak ?! Bagaimana?”

Gimin

“Iya juga sih bu’. Semoga saja kalau bapak kerja jadi petani, kita jadi bisa berharap lebih banyak untuk masa depan anak-anak, mereka bisa sekolah menjadi lebih pintar dan hidup lebih baik ketimbang bapak ibunya. Besok pagi-pagi sekali bapak pergi ke Pak Roso lah. Do’ain saja bu’, siapa tahu rejeki kita memang di situ.”

Narti

“Amiien. Iya pak buruan aja, sebelum keduluan orang lain. Lebih cepat lebih baik. Biar segera kerja, dapat beras dan duit, biar hidup kita jauh lebih baik.”

Gimin

“Yah.., sekarang kita pergi tidur lah, badan capek banget. Biar besok bisa bangun pagi.
Narti dan Gimin beranjak dari kursinya menuju kamar tidurnya meninggalkan tempat diskusinya. Dan sebelumnya mendekati balai bambu tempat anak-anaknya tertidur.”
(sembari berbisik) “Mereka sudah tertidur lelap bu’.” (mengusap kepala anak2nya)

Narti

(mengangguk)
“Syukurlah, akhirnya capek juga mereka menangis, sampai tertidur. Kasihan mereka pa’. “
(sambil mencium kening anak-anaknya)

Mereka berjalan semakin menjauhi fokus perhatian. Perlahan lampu mati, lambat laun suara musik pun mengecil.

Black Out.

II. Ext. Teras Rumah Tuan Tanah – Pagi.

Roso sedang duduk-duduk santai di kursi malasnya, menyantap makanan ringan sarapan paginya bersama secangkir kopi, dengan koran ditangannya, membuka lembar demi lembar kertas koran. Serta sesekali bersiul sembari menjentikkan jarinya tanda menjawab sapaan ‘selamat pagi’ burung-burung yang sedang berkicau.
Tak lama kemudian muncul Gimin bertandang ke rumahnya.

Gimin

(sementara Roso sedang terbuai berita dengan penuh konsentrasi)
“Selamat pagi pak! (tak ada jawaban) Selamat pagi pak!” (belum juga ada jawaban)

Melangkah lebih maju mendekati kursi di mana tuan rumah sedang duduk-duduk.
“Selamat pagi Pak!”

Roso

(terkejut dan dengan gaya sok wibawa menjawab)
“Hemm….. oo…ada tamu.”

Gimin

“Selamat pagi Pak!”

Roso

“O.. ya, selamat pagi. Mari silakan masuk….”
Gimin melangkah lebih ke dalam memasuki teras rumahnya menuju Roso, lantas ia mengangkat tangan kanannya hendak berjabat tangan. Dan Roso membalas dengan menjabat tangannya..
“<Silakan duduk pak!"
Roso segera duduk di kursi.
“Dengan bapak….?!”

Gimin

“Gimin pak, (raut wajah Roso tampak penuh tanya) tetangga sebelah kampung pak, Wagimin.”

Roso

(mulai mengenal)
“Oh.. ya, bapak Wagimin, saya pernah dengar nama itu. Ada perlu apa pak Gimin?”
(langsung bertanya tanpa basa-basi sedikitpun)

Gimin

(dengan agak ragu)
“Ehmm.. begini pak.”

Roso

(menunjukkan ketidaksabaran)
“Iya.., bagaimana?!”

Gimin

“Begini pak, maksud kedatangan saya kesini ingin meminta bantuan bapak….”

Roso

(secepatnya membalas sinyal Gimin)
“Bantuan apa ya pak?”

Gimin

“Ini.. pak, ehmm… bantuan kerjaan, pak. Kalau ada…”

Roso

(wajah penuh tanya)
“Kerjaan apa pak?”

Gimin

“Tani pak… (dibalas anggukan kepala Roso) untuk sawah bapak.”

Roso

“Hem… ya… ya…, kebetulan memang, saya sedang butuh cukup banyak petani penggarap untuk menggarap tanah persawahan yang baru saya beli kemaren. Itu tuh di sana letaknya.” (sambil menunjuk ke arah tanah tersebut terletak)

Gimin

(dengan pandangan matanya mengikuti arah telunjuk Roso)
“O… iya begitu pak. Saya rasa tidak terlalu jauh dari rumah saya, betul begitu pak?! (dibalas anggukan kepala Roso) Berarti bapak menerima saya jadi buruh tani sawah bapak?!”

Roso

“Ya…, bisa. Anda sendiri hendak memulai kapan ?”

Gimin

“Buat saya, ‘kapan’ pun tidak menjadi masalah, tergantung bapak menghendaki saya bisa bekerja mulai kapan?”

Roso

“Lho, ya anda sendiri bagaimana ?! Mau mulai besok?” (penuh tanya dan bingung)

Gimin

“Boleh pak. Lantas bagaimana dengan…..”

Roso

“Dengan apa..?!”

Gimin

“Ma’af pak, maksud saya… upah.”

Roso

“Ooo.., jadi begini ya pak Gimin. Saya tadi juga sempat bingung. Sebenarnya sistem kerja dengan saya itu macam-macam jenisnya, bapak hendak memilih jenis yang mana, semua tergantung pada modal apa yang hendak bapak berikan ke saya. Kalau bapak punya modal uang cukup besar, bapak bisa sewa tanah saya dalam hitungan bulan tanam atau tahun, lalu pengolahan tanah sampai hasil panennya, semua menjadi kekuasaan dan milik bapak sepenuhnya sepanjang masa sewa, jadi saya hanya menerima uang sewaan saja. Harga sewanya.., per petak itu saya kasih…”

Gimin

(menyela)
“Aduuh.. maaf pak, tapi saya tidak punya uang untuk menyewa tanah bapak.”

Roso

(tak kalah menyela juga)
“Ya.. kalau bapak tidak punya cukup uang buat menyewa, bapak bisa saja mengolah tanah itu sekendak hati bapak tanpa menyewa dan terserah mau di tanam apa, asalkan segala kebutuhan pengolahan sampai dengan panen dan resikonya menjadi tanggungan bapak sepenuhnya, lalu hasil panen kita bagi dua, separoh buat bapak dan separoh lagi buat saya. Bagaimana?”

Gimin

(dengan mimik putus asa, ia sempat terdiam sejenak sambil seolah berpikir)
“Tapi pak…, saya juga tidak mungkin bisa menanggung pengolahan tanah sampai dengan panen, karena saya tidak punya uang se-sen pun untuk pembiayaannya. Aduuh.. gimana ya?”

Roso

“Ya…, itu terserah bapak sih. Tergantung kebutuhan dan kemampuan lah. “

Gimin

“Atau… bapak punya pilihan lain buat saya, tanpa saya harus mengeluarkan uang se-sen pun tapi saya bisa bertani dan mendapat bagian dari hasil tani tersebut.”

Roso


(mulai meremehkan)

“Ya… ada sih. Tapi rasanya nggak mungkin kalo’ bapak meminta hasil tani dari tanah tersebut, untuk jenis kerja yang satu ini. Paling tidak saya bisa bayar bapak dengan upah buruh tani harian, dengan konsekuensi, kalau satu hari saja bapak tidak bekerja, upah hari itu dianggap hangus. Itu saja sih pak.”

Gimin

(tubuhnya lemas, serasa harapannya untuk bisa hidup lebih baik, musnah begitu saja)
“Baiklah pak.., saya rasa sepertinya… saya hanya sanggup mengambil pilihan yang terakhir itu pak, sesuai kemampuan saya. Lalu.., berapa upah buruh harian yang akan saya terima pak?”

Roso

“Yah… karena bapak hanya modal tenaga saja, saya hanya bisa kasih bapak upah, per harinya 5.000 untuk tanah seluas satu petak itu..”
Ada jeda untuk keduanya terdiam.
“Bagaimana ?! Itu saja. Yang jelas saya nggak akan bisa kasih hasil panen sedikitpun ke bapak. “

Terdengar teriakan dari dalam rumah : “Pak.., sarapan dulu!”.
“Yah.., bapak pikir-pikir dulu lah. Saya ke belakang sebentar.”

Gimin bagai tersambar petir, pagi itu, ia lemas menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tanpa daya dan larut dalam bayangan yang mengerikan dan menakutkan. Ditinggalkan Roso ia hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Koor Petani

“Anda pikir kami ini bisa hidup cukup.
Ha…ha…ha…ha….Ya… kami memang hidup berkecukupan. (bergantian)
Cukup susah…(dijawab yang lainnya) ya, (demikian seterusnya sama seperti sebelumnya) cukup melarat…ya, cukup miskin…ya, cukup kere…ya, cukup sial…ya, cukup menderita…ya, cukup teraniaya….ya, cukup terpasung…ya, cukup tertindas…ya, cukup terhisap…ya, cukup tertikam…ya, cukup terdampar…ya, cukup terdepak…ya, cukup terkucilkan…ya, cukup tak teranggap…ya, cukup tertawan…ya, cukup tertipu…ya, cukup terbodohi…ya, cukup terjebak…ya, cukup terdesak…ya, cukup terombang-ambing…ya, cukup tergusur…ya, cukup terpojok….ya, cukup terjepit…ya, cukup terhimpit….ya, cukup tergilas…ya, cukup terbunuh….ya, tapi kami juga cukup sabar…pasti, namun pula cukup lelah…. dan cukup frustasi….tentulah, sekaligus cukup mulia, cukup beradab, cukup sosial dan cukup terhormat bagi kelangsungan hidup seluruh umat manusia….harus!”

Sekembali Roso dari dalam rumah menuju terasnya menemui Gimin yang ditinggal sendiri, koor petani berhenti.

Roso

(mengejutkan Gimin)
“Bagaimana pak Gimin ?! Sudah diputuskan ?”

Gimin

(terkejut)
“Iya.. sudah pak. “

Roso

“Lalu.. apa itu?”

Gimin

“Ya.. saya bersedia menjadi buruh tani penggarap bapak, dengan penghasilan seperti yang bapak sampaikan. Tapi syukur-syukur bapak bisa memberi kebijaksanaan kepada saya, anak saya tiga dan masih kecil-kecil, isteri hanya di rumah tanpa penghasilan apapun, kebutuhan mereka banyak pak, sedangkan selama ini saya hanya menganggur saja. Saat ini kondisi mereka amat menyedihkan sekali, sehingga mau tidak mau menuntut saya segera bekerja mencari uang untuk makan dan menghidupi mereka. Kalau boleh saya memohon, kiranya bapak bersedia memberikan kelebihan rejeki dari tanah tersebut kepada saya atas hasil kerja saya nantinya.”

Roso

“Saat ini saya tidak bisa memberi harapan terlalu besar dan berjanji banyak kepada bapak. Karena saya sendiri masih memiliki banyak kebutuhan keluarga dan karyawan serta operasional lainnya yang harus saya penuhi, sebagai tanggung jawab saya. Bagaimana? Begitu saja?!” (seperti tidak sabar, ingin segera mengakhiri pembicaraan di antara mereka).

Gimin

“Yah… baiklah kalau begitu. Saya permisi pulang dulu pak. (sembari berdiri dari duduknya lalu menjabat tangan Roso) Sebelumnya terima kasih pak. (beranjak melangkah hendak meninggalkan Roso, tapi lalu seperti tengah teringat sesuatu yang nyaris terlupa, kemudian ia memutar badannya) O.. iya pak, mungkin besok saya akan mulai kerja.”

Roso

(bangkit dari duduknya) “Baguslah. Kalau begitu sebelum ke sawah, besok pagi-pagi sekali datanglah ke sini dulu, bila ingin mengambil perangkat keperluan bertani yang diperlukan. Nanti bisa dimintakan ke pak Gogon (mandor) di gudang sana.. (sembari telunjuknya menunjuk bangunan besar berbentuk kubus) dan ia yang akan mengantar bapak ke lokasi, memberitahukan tanah petak mana yang harus bapak olah. Yah itu saja, saya rasa cukup. Pastikan besok bapak datang.”

Gimin

“Iya pak.., saya pasti datang. Permisi pak.” (dibalas anggukan kepala Roso)

Segera ia membalik badannya, melangkah dengan guntai, perlahan-lahan namun pasti meninggalkan rumah tersebut, hendak pulang menuju rumah dengan langkah yang sangat lambat.
Sembari bergumam…


Gimin

“Haruskah aku jadi petani?! Petani miskin, yang tak punya apa-apa, tak dipunyai apa-apa dan tak mampu berapa-apa. Petani…petani….”
Gimin sempat terkejut karena sementara bersamaan…..

Koor Petani

“Anda takut ?! Ha… ha… ha… ha… Lihat kami hai seorang tua!!
Meski kami terpasung, terikat rantai dengan sangat kuat, kami takkan berhenti bertani.
Kami akan terus selalu bertani setiap kali jantung kami perlu berdetak, di sepanjang negeri, di belahan bumi ini, di semenanjung pantai, di setiap hantaran sungai kehidupan, selama hamparan permadani ini masih beralaskan tanah, bersandarkan bumi, dan berpayungkan langit, tiada seorangpun yang dapat merayu dan memaksa kami untuk berhenti, hingga tiada lagi tanah yang tersisa bagi orang-orang rakus dan serakah macam mereka.
Agar kami bisa menghidupi anak dan cucu kami dari tanah, tanah tempat kami lahir, tempat kami hidup, tempat kami tinggal, tempat kami mencari makan, tempat kami berpijak, tempat kami meruang, tempat kami melangit dan akhirnya pun tempat kami mati.
Untuk makan – minum; bagi gizi – kesehatan; buat kuat – pintar; sebab kemanusiaan – kerakyatan; guna peradaban – kebudayaan; pada ekologi – ekosistem; sebagai persembahan kami kepada generasi-generasi mendatang, kepada sistem keadilan dan kemakmuran negeri tercinta esok, kepada sosialisasi makhluk-makhluk hidup dan naturalisasi alam di dunia dan bumi semesta di kemudian zaman.”

Gimin

(berteriak lantang sekuat tenaga)
“Gillaaa!!!
Kemana larinya harapan yang semakin menghilang!
Dimana kucari anganku yang hendak terbang!
Penantian yang tak berujung!
Tanya yang tak terjawab!
Keinginan yang takkan pernah terwujud!
Hai manusia dimana kau simpan rasa kemanusiaanmu!
Kemana kau buang belas kasihmu dan wajah cintamu pada sesama!
Tak tahukah aku pun sama seperti kalian, anakku sama seperti anak kalian, butuh makan untuk hidup, perut kami lapar bila tak teirisi makanan, kami sakit bila lapar ini tak teratasi, kami akan mati bila sakit mulai menjangkit, dan tiada tanah pekuburan yang tersisa untuk makam kami nantinya!
Setan tengik… pergilah jauh-jauh dari wajahku, aku muak mencium baumu dan aku jijik melihatmu berkeliaran di bumi ini!
Wahai Tuhan dimana kau sebarkan rahmatMu pada kami!
Kemana kau taburkan kasih sayangMu pada anak-cucu kami!
Limpahkan kasihmu pada seluruh ciptaMu, agar kami dapat hidup damai, agar kami pun dapat merasakan hidup tentram dan sejahtera, seperti mereka.
Bukan hanya mereka saja Tuhan!
Kami pun ingin, ingin sekali bahkan teramat ingin sekali.
Berilah kami kekuatanMu untuk menghadapi setan-setan tengik yang tak beradab dan tak manusiawi itu.
Berilah Tuhan! Segerakan datangkan kekuatan itu pada kami Tuhan!
Kapan Tuhan! Kapan?!” (semakin melemah)

Koor Petani

(berteriak kencang)
“Sekali lagi, anda takut?!…. Ha… ha… ha… ha….ha…. Pengecut !!!!”

Gimin terkejut lagi, tertegun kemudian terdiam mendengarkan dengan seksama.
(suaranya mulai melunak)

“Tapi bolehlah kau bersedih, menangislah… menangislah… menangislah lagi dengan kuat… tapi kemudian bangkitlah… bangkit pak tua… kami bersamamu. “

Koor Petani (a)

“Kala hari mulai temaram, buritan awan menepis siang
Kala hidup tiada adil makmur dan tentram, buruh tani hanyalah wajah yang terbuang “

Koor Petani (b)

“Selusin kain batik tersimpan, hanya menyisakan bau apek yang tercium
Seluas hamparan tanah menjadi harapan, hanya tinggal gigitan jari separoh kaum”

Koor Petani (a)

“Air hujan merintik datang, payung tua mulai berkembang
Aku hujam pacul pada tanah pematang, palu tuan tanah pun mengancam terbang”
(ekspresi lari terbirit-birit)

Koor Petani (b)

“Tali temali benang bersimpul, tikar teranyam duduk bersimpuh
Tani menyawah kami berkumpul, tikam mengancam kami merapuh”
(ekspresi lemah dan berjatuhan)

Koor Petani (a) & (b)

“Cing gemerincing uang berjatuh, pung ketipung gendang ditalu
Caci maki terasa tertelan utuh, pun hati kami tersayat pilu

Kakak berlari mengejar enyak, adik berjalan menabrak tiang
Ketika kami buruh tani mengharap banyak, akan tetapi hanya milik mereka yang beruang

Ayam berkokok menjelang pagi, kalong terbirit segera melabuh
Awak melarang berpantang lagi, kalau genderang perang telah ditabuh

Do’a…., jangan hanya do’a yang kau sisakan kepada kami, tapi mana usahamu dan perjuanganmu untuk mendampingi kami.
Tuhan takkan begitu saja mengabulkan permintaanmu hari ini, hai petani, tanpa kau pun mau dan mampu berbuat sesuatu yang mulia dan sesuatu yang revolusioner atas selektivitas alam yang gila dan sedang menggila, terjadi pada dirimu masing-masing, kemaren, sekarang dan esok, tidakkah kau rasakan itu?!
Karena kaupun pun nantinya akan terseleksi bila tak mampu bertahan dan berontak, hingga akhirnya kaupun ikut pula meninggalkan sumbangan nama busuk yang akan menusuk hidung generasi mendatang.
Cukuplah hanya kepada manusia-manusia yang tak manusiawi dan manusia-manusia setan itu, nama busuk ditinggalkan, tapi bukan julukan untuk kau juga bukan untuk kami.
Sebelum seleksi gila itu menggilas kita, kitalah yang harus melakukan seleksi lebih dahulu terhadap semua kebusukan yang harusnya tidak boleh dibiarkan hidup di bumi ini.
Seleksilah mereka, manusia-manusia busuk yang hidup di atas bangkai-bangkai kami, bangkai kami yang seharusnya tak perlu menyebarkan bau busuk, karena terkubur dengan baik dalam tanah-tanah tercinta kami, tanah yang selalu kami lindungi, kami bela, kami rawat dan kami pelihara dengan sangat-sangat baik.
Camkan itu baik-baik seorang pengecut tua!”

Gimin

(sembari mempercepat langkahnya hendak meninggalkan suara-suara itu)

“Akhh…, lihat saja nanti, akan saya buktikan, pasti tiba waktunya di mana saya akan siap menantang manusia-manusia busuk itu! Lihat! Dan saksikan! Ha… ha… ha…. ha…ha…”

Ia berjalan cepat meninggalkan fokus, semakin jauh dan menghilang dari pandangan mata. Perlahan lampu mati, lambat laun suara musik pun mengecil.

Black Out.

III. Ext. Pematang Sawah – Siang.

Gimin berkumpul dengan teman-temannya di tengah pematang sawah, melepas lelah setelah setengah hari bekerja, makan siang di bawah atap pendopo bersama-sama.

Gimin

“Kita istirahat dulu laah.., makan siang. Lapar sudah perut ini rasanya.”

Narto

“Yah.., benar kita nikmati dulu masakan isteri….”
Sementara mereka menata makanan….

Koor Petani

“Sejahteralah petani.
Kau pun manusia yang pantas merasakan nikmatnya kehidupan ini.
Harta karun di negeri kaya ini, bukan hanya milik manusia rakus dan serakah macam mereka.
Kau pun berhak memilikinya bahkan menikmati semua hasil bumi tanpa sedikitpun rasa takut, cemas dan khawatir yang mencekam.
Tak pula mereka berhak menghardikmu, membatasimu dan mengatur semua kemerdekaanmu, bahkan menggantung nasib sejahteramu.
Kalaupun kau terbatasi itu hanya oleh rasa kemanusiaanmu dan rasa sosialmu yang tinggi terhadap sesama, oleh rasa setiamu dan rasa pedulimu yang tinggi terhadap kelangsungan baik ekosistem alam, tanpa dilekati jiwa rakus, serakah, sombong, egois dan munafik.
Hingga keadilan dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh manusia dan makhluk semesta.
Tinggal kemakmuran yang sebenarnya sajalah yang tersisa dan sungguh akan segera merajalela, menyebarkan virus bahagia, damai, aman, tentram dan sejahtera kepada seluruh umat manusia.”

Gimin dan teman-teman makan….

Gimin

“Kalian ini…, bisanya hanya bicara saja.
Memang kalian pikir, mudah apa mensejahterakan seluruh umat, memakmurkan negeri ini, memberikan rasa adil, aman, tentram dan bahagia kepada setiap manusia ?
Semua orang kalau hanya bicara juga bisa. Lagian siapa sih yang tidak ingin merasakan kebahagiaan seperti itu?
Semua juga ingin, tapi gimana caranya?!”

Narto

“Ya.. benar, kalian tahukan?!
Udah banyak orang pintar memimpin negeri ini, tapi tetap saja nggak makmur-makmur.
Udah banyak orang hebat berjuang untuk kepentingan negeri ini , tapi tetap saja nggak maju-maju.
Eh…, kalian menunjuk kita, kaum miskin, kaum bodoh, kaum lemah untuk bicara tentang mensejahterakan orang banyak.
Wah…, mana mungkin, memang kalian pikir kita ini malaikat?! Tuhan?!”

Gimin

“Ha… kalian mimpi, mimpi di tengah hari bolong begini. Mana mungkin kita bisa merubah negeri ini, mana mungkin?! Makanya bangun…, bangun…, kerja…”

Koor Petani

“Haa… ha… ha…., rupanya benar apa kata kalian, kau, kau memang kaum bodoh, lemah dan miskin.
Ya…, miskin harapan dan miskin mimpi.
Makanya hidup kalian tidak akan pernah indah, senang dan bahagia. Kalian hanya akan dapat menikmati kemelaratan dan kesusahan selalu setiap saat, hingga kalian mati dan anak-anak kalian kelaparan lalu mati menyusul kalian.”

Gimin

“Tidak..!!
Kami selalu mencoba dan berharap untuk selalu bahagia, karena kami yakin inilah jalan terbaik untuk kami dari Tuhan.
Inilah rejeki yang telah Tuhan gariskan kepada kami sekeluarga, inilah nasib hidup kami, meskipun kekurangan kami selalu bersyukur, itulah yang membuat kami senantiasa merasa bahagia.”

“Meskipun kami sering menangis…” (dipotong oleh Narto)

Narto

“Melalui tangis itulah kami berharap Tuhan mendengarkan dan memberikan bantuan rahmatNya kepada kami orang miskin.
Kami bahagia karena rasa syukur kami yang teramat ikhlas, kami masih berharap Tuhan mau melimpahkan rejeki lebih untuk anak-anak kami.
Karena mereka harus sekolah demi masa depannya kelak.
Itu saja pinta kami, dengan itu semua kami sudah sangat cukup bahagia.”

Koor Petani

“Bahagia… bahagia… di mana dirimu!”

Gimin

“Hei…, kami tidak muluk2 berharap seperti kalian, kami hanya mengharapkan kami bisa makan cukup, anak-anak sekolah, berpakaian, tinggal nyaman di rumah, tidur nyenyak, hidup tenang dan sehat. Itu saja. “

Koor Petani

“Ha… ha… ha…, mana mungkin pak tua!!!
Nasib kalian digantung oleh orang-orang yang menguasaimu, yang mengendalikanmu.
Garis hidup kalian dipengaruhi bahkan ditentukan oleh yang mengatur kalian, yang mempekerjakan kalian, yang memberi makan kalian, yang tanah miliknya saat ini sedang kamu olah.
Tuhan…?! Tuhan katamu?!
Tuhan memang ada, Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penolong, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha segalanya, tapi Tuhan tidak secara langsung begitu saja memberikan rahmat karuniaNya berupa makanan dan rejeki lainnya dari langit lalu hinggap ke tangan-tangan kalian.
Tapi Ia berikan semua itu melalui seluruh aspek hidup dan aspek kehidupan di bumi ini bahkan aspek yang mati sekalipun.
Dititipkan melalui kekayaan alam negeri ini, melalui hukum alamnya, melalui para pemimpin bangsa, melalui orang yang berkuasa atas yang orang lainnya, orang yang kuat atas orang yang lemah, orang-orang yang pintar atas orang yang bodoh, orang-orang yang kaya atas orang yang miskin, orang-orang yang mampu atas orang yang tak mampu, melalui ajaran dan aturan-aturan yang berlaku.”

Narto

“Lalu maksud kalian bagaimana?!”

Koor Petani

“Ya…, nasib mu tidak akan pernah berubah, kalau yang dititipkan itu tidak mampu menjaga amanat Penciptanya, kalau jatah rejeki kalian ternyata oleh mereka tidak dibagikan kepada yang berhak dibagi.
Jatah rejeki kalian bukanlah ditahan oleh Tuhan… tidak!!….. tapi oleh tempat-tempat penitipan itu.
Tuhan sudah turunkan semua rejeki kalian ke bumi ini, tapi jelas tidak akan pernah sampai kalau kalian hanya bisa pasrah menerima rejeki sebatas apa yang sampai pada kalian.
Maka jangan pernah berharap lebih dari apa yang bisa kalian dapatkan hari ini kalau kalian hanya bisa berbuat seperti hari ini dan hari kemaren.
Yang perlu kalian perbuat adalah membersihkan tempat-tempat penitipan itu, mengingatkan penjaga-penjaga di tempat penitipan itu dan menjaga titipan Tuhan agar amanat itu sampai kepada seluruh umat manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Agar Tuhan tidak bosan-bosan melimpahkan rejeki lagi kepada alam semesta ini.
Bukan seperti sekarang yang ada hanya musibah, bencana, penyakit, kerusuhan, kekerasan, kecelakaan, kehancuran dan lain-lainnya hingga banyak korban berjatuhan di mana-mana.
Itu semua karena ulah manusia termasuk kalian. Maka kalian harus ikut bertanggungjawab!!!
Meski kalian diam, tapi diamnya kalian telah berpengaruh banyak atas semua peristiwa buruk di negeri, dunia dan muka bumi ini.”

Koor Petani (a)

“Bila ibu memasak cumi, tak lupa memberi cuka
Benih tanaman ditanam oleh kami, tapi panenpun menjadi milik mereka”

Koor Petani (b)

“Tiang terpancang kuat, kawatpun kian meninggi
Tatkala di depan mata rejeki melewat, kamipun hanya dapat mengigau tinggi”

Koor Petani (a)

“Kawanan burung terbang menjauh, langit terpikat merajut riang
Kala harta alam mulai meriuh, lari penguasa bak kereta kencang”

Koor Petani (b)

“Dari daratan turun ke laut, nelayan pergi hilangkan iba
Dari penguasa engkau selalu bertaut, nasib baik di tangan tak kunjung tiba”

Koor Petani (a)

“Kibarkan bendera, riangkan hati
Kabar didengar tak gembira, rasanya aku seperti mati”

Koor Petani (b)

“Hujan merintik tiada henti, air sungai jadi meluap
Hujatkan kami punya derita hati, agar bala bantuan segera siap”

Koor Petani

“Arak mengarak turun ke ladang, kidung terdengar senangkan pedagang
Ah.. mereka berlomba penuhkan gudang, kita berpeluh ria kencangkan pinggang

Kapal berputar hendak menepi, nyanyian anak menyambut nelayan
Kalau tuan-tuan sadar berbagi ‘happy’…, nyenyakkan anak mereka yang lapar nian….”

(sambil menunjuk ke penonton lalu mengasihani Gimin dan Narto, kemudian tertawa dan hendak berlalu pergi)
Saat petani2 (koor) hendak pergi.

Gimin

“Tunggu…, mengapa kalian juga menggantung kami.
Kalian sama dengan kami, tapi kenapa kalian mencaci kami?
Apa salah kami?
Mengapa kalian tidak menunjuk mereka di sana?
Di tempat-tempat penitipan Tuhan, seperti kata kalian?”

Narto

“Ya… seperti kata kalian, kenapa kalian pun tidak berbuat sesuatu pun dan hanya bisa berteriak bahkan hanya membuat kami merasa salah dan takut, mengapa tidak pada mereka-mereka yang di tempat-tempat penitipan itu?
Jangan-jangan sebenarnya kalian juga takut.. sama seperti kami.
Atau kalian hanya bisa menyuruh saja tanpa berbuat?!”

Koor Petani

“Kau.. kau… ini pun semakin bodoh.
Ha… ha… ha… ha…, kami ini adalah yang pertama siap berteriak, meski nyawa taruhannya.
Bersama kalian lah, kita para petani maju sebagai garda terdepan perubahan.
Tanpa kalian, jelas kami hanya orang-orang yang siap bunuh diri, tanpa kalian kami bukanlah apa-apa, tanpa kalian kami hanyalah segelintir orang yang siap ditumpas, tanpa kalian kami menjadi pincang dan tanpa kekuatan.
Kita bersatu dalam payung-payung perjuangan.
Nasib yang sama sebagai petani jelas telah nyata-nyata mempersatukan kita dalam bingkai yang utuh.
Kemudian kita mencari bingkai lain untuk bergabung dalam perjuangan kita, yaitu bingkai orang-orang yang benar yang seperjuangan dengan kita.”

Gimin

“Lho…, memangnya siapa kalian, begitu soknya, seperti mampu berbuat banyak.”

Koor Petani

“Hmm.. hmm.. hmm… kita?! Kita pun tani seperti kalian. Bukankah tadi kami sudah bilang?!”

Narto

“Lalu… seperti tanya saya tadi.
Bagaimana mungkin, kalian petani, berbuat hebat mewujudkan seperti mimpi2 kalian. Kalian malaikat apa?!! Memang sehebat apa kalian, bisa semampu itu?”

Koor Petani

“Haa…. haa… haa…. lagi2 kami bilang juga apa. Dasar bodoh!
Heh…. kau dan kau, tidak sadarkah di tangan kalianlah hidup dan matinya manusia dititipkan oleh Tuhan.”

Gimin dan Narto saling berpandangan penuh heran.
“Hei… makanya melek….
Bagaimana mau melekin mata penjaga-penjaga tempat penitipan Tuhan di tangga kekuasaan sana, kalau kalian sendiri masih tertidur.”

Gimin

“Tapi bagaimana mungkin…, Tuhan pun menitipkan hidup dan mati itu kepada kami.”

Koor Petani

“Yah…, kalian adalah salah satu tempat titipan amanat Tuhan yang mana amanat itupun wajib disalurkan dengan tepat buat orang banyak dengan baik dan benar.
Jadi bersiap-siaplah Tuhan pun akan meminta pertanggungjawabanmu!”

Narto

“Kenapa..???”

Koor Petani

“Orang seperti kalian.., diberi kelebihan Tuhan untuk bisa bertani, mengolah tanah hingga menghasilkan banyak hal yang menjadi kebutuhan pokok seluruh umat manusia, yaitu makan dan makanan.
Coba.., siapa yang bisa hidup tanpa makan?!
Kalau kalian tidak bertani, semua manusia tidak akan dapat makan.
Maka mereka akan mencari makanan kemana-mana sendiri, seperti ke laut atau ke hutan-hutan.
Dengan demikian kalianlah yang dengan mulia telah memenuhi kebutuhan pokok seluruh umat manusia akan makan sejak berabad-abad lamanya.
Tapi apakah kalian cukup dihormati untuk kerja mulia itu?!”

(koor lainnya menjawab)
“Tidaaaaak……………..
Karena memang kalian tidak perlu merasa dihormati.
Tapi apakah kalian merasa cukup adil telah diperlakukan demikian?!
Bagaimana dengan anak-anak kalian?!”

Gimin

“Anak-anakku tidak akan saya ijinkan menjadi petani seperti bapaknya, kelak.”

Koor Petani

“Haa… haa…. haa… lagi2 kalian memang bodoh.
Hai… tidak maukah kalian menjadi orang yang paling mulia dan paling berjasa bagi kehidupan seluruh umat manusia dan tidakkah kau mengijinkan anak-anakmu pun menjadi orang yang demikian pula?!
Mengapa petani tidak bisa menjadi pahlawan bagi negaranya sendiri, menjadi penguasa bagi kebutuhan makanan rakyat banyak, mengapa???”

Narto

“Ooh… saya pusing, tidak pula saya mengerti maksud kalian.”

Koor Petani

“Begini…., seharusnya kalianlah yang akhirnya bisa menggantung nasib hidup rakyat banyak, bukanlah tuan tanah, lurah, camat, menteri, presiden atau bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk di DPR/MPR itu.
Tapi kalian cengeng dan terlalu lemah, jadi nasib sedih kalian hanyalah tinggal jeritan dalam tanah-tanah olahan kalian saja.
Kenapa kalian takut menjadi penguasa, menjadi tempat penitipan nasib dan menjadikan semua rakyat di negeri ini semuanya bernasib baik, tanpa terkecuali.”

Gimin

“Yah…, sudahlah. Diskusinya harus segera diakhiri, kita kembali bekerja…”
Sementara Gimin dan Narto beranjak dan berkemas untuk kembali ke sawah….

Koor Petani

“Bekerjalah… kembalilah bekerja…. untuk orang banyak…. untuk anak-isterimu…., bekerjalah bukan untuk kesedihanmu dan bekerjalah bersama-sama kita…. memberdayakan tempat penitipan amanat kita. Menggantungkan nasib-nasib tuan tanah bumi pertiwi… “

*naskah teater ini tulis oleh Herfina, secara sederhana tahun 2001 untuk sebuah kelompok teater kecil para pemuda/i berkumpul di tengah kampung sebuah kota Metropolitan, dalam rencana pementasan menyambut hari lahirnya UUPA, tanggal 24 September yang juga dikenal sebagai Hari Tani Nasional, namun karena satu dan lain hal, pementasan itu hingga hari ini pun belum dapat dilangsungkan.

KEMANDIRIAN DALAM MAKNA DAN REALITAS

Posted in Opini with tags on March 13, 2009 by feenakoe

Oleh : Herfina, SH

Tiada ketidakmampuan dalam kerangka belajar.

Tiada ketidakmungkinan dalam kerangka berusaha.

Tiada yang mudah tanpa mengerti.

Tiada yang nyata tanpa melakukan.

Sedemikian pentingnya ilmu dan berharganya tindakan.

Berangkat dari ketidaktahuan kita hendak mencari tahu. Tidak hanya ilmu tertentu yang hendak kita cari tahu saja, yang perlu dikuasai, melainkan juga mengetahui “ilmu pencarian” atas ilmu itu sendiri yang belum lagi kita ketahui, adalah mutlak dikuasai. “Ilmu pencarian” itu sendiri telah menjadi penghantar pencarian untuk menimba ilmu mengerti diri sendiri, orang lain dan paham tentang lingkungan sekitar.

Pembelajaran demi pembelajaran adalah proses terbukanya pintu gerbang satu ke pintu gerbang lain, demi meraih hasil nyata yang semula hanya bermuarakan harapan yang belum pasti atau mimpi yang belum nyata, menuju tujuan hidup sejati.

Sayangnya, seringkali pembelajaran itu sendiri kerap kali terbentur soal lain yang tidak terdapat dalam soal-soal ujian pembelajaran yang sedang kita geluti. Istilah “seni pembelajaran” termasuk dalam kerangka pencarian (ilmu pencarian) guna menuntut ilmu dan merealisasikan keinginan atas suatu ilmu, mungkin demikian lebih pantas kita sebut, ketimbang sebutan batu sandungan. Karena di situ pulalah ilmu itu sendiri berasal dan akan bermuara. Tragis memang sepertinya, bila tumpukan soal kemarin belum lagi selesai digarap lantas harus hadir soal baru kemudian, sesudah itu soal demi soal bahkan soal-soal demi soal-soal itu selalu hadir mengikuti untuk minta segera diselesaikan, hidup memang harus dengan kesungguhan sebab hidup itu adalah nyata dan yang nyata memang harus dihadapi bukan untuk dielakkan. Skala proritas, memudahkan berpikir sistematis dan terencana. Mampu membuat pilihan dan konsisten menjalankan dengan segenap keberanian tentunya akan lekat dengan resiko dan konsekuensi serta tanggung jawab yang tidak sederhana.

Karenanya tidak dapat ditawar lagi, bahwa menghadapi soal-soal hidup sebagai bentuk perjuangan harus berangkat dari dalam diri sendiri dahulu baru kemudian keluar. Dan sebagai wujud kesiapan serta kesigapan menjalankan tantangan demi tantangan diawali dengan keteguhan tekad untuk memulai melangkah sekarang juga tanpa perlu menunda. “Tidak bergantung” melainkan “berdiri tegap” adalah konsep baku bagi kaki-kaki yang hendak melangkah menapakkan jejaknya ke bumi. Bukanlah hanya menguasai teori tentang bagaimana cara berdiri tegap, sementara posisi sedang terkulai atau bahkan tertidur pulas, namun mempraktekkan kaki-kaki berdiri dengan tegap adalah ujian sesungguhnya atas kebenaran teori berdiri tegap dan atas kemampuan diri pada suatu yang diteorikannya. Kemudian di balik itu, jangan terhenyak bilamana posisi berdiri dan melangkahnya kaki yang tengah dilakukan pun akan dihadapkan pada banyak respon baik positif maupun negatif sebagai kontrol dari dalam diri dan luar diri termasuk lingkungan sosial masyarakat, itu merupakan ujian selanjutnya untuk kembali menguji atas keabsahan teori dan kelangsungannya. Ada banyak kemungkinan mengapa selektifitas terjadi; pertama, bukan berangkat dari soal yang salah, mungkin jawabannya yang belum tepat; atau kedua, bukan berarti jawabannya yang salah, mungkin soalnya yang terlalu dini dilontarkan, yang pasti tidak ada yang perlu dipersalahkan dan dijadikan kambing hitam, sebab apapun itu tetap harus dihadapi. Pertanyaannya sekarang, apakah hendak memberi soal atau menawarkan jawaban ? Yang jelas keduanya yaitu soal dan jawaban akan saling berhadapan satu sama lain dan bermunculan satu dengan lainnya, bila ingin dinamisasi hidup terus bergulir.

Bergulirnya dinamisasi hidup yang diharapkan adalah selalu tertuju ke arah perbaikan. Arah perbaikan bermula dari kemandirian yang harus dimiliki lebih dahulu. Mengapa ? Karena akan lahir pertanyaan dinamisasi hidup seperti apa pada dasarnya sungguh-sungguh diinginkan ? Memilih sendiri dengan konsekuensi ataukah dipilihkan dengan kompensasi ? Berbekal kemandirian, kedinamisan hidup menjadi lebih beradab dalam kemerdekaannya. Bermodal kemandirian, pilihan akan menjadi lebih leluasa hidup dalam keberadabannya. Bersenapan kemandirian, pertahanan diri menjadi lebih kuat dan berumur panjang dalam keluasannya. Bersenandung kemandirian bersama bangsa, maka keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan hidup menjadi kado yang layak sebagai jaminan hidup masyarakat sepanjang usianya tanpa perlu mengkhawatirkan lahirnya konsekuensi maupun kompensasi yang berlebihan serta berkepanjangan dan tidak berkesudahan dari campur tangan pihak lain.

Jelas sudah, apa sebenarnya hubungan ilmu dan seni pembelajaran serta perjuangan dan dinamisasi hidup dengan kemandirian ?

Seperti disinggung di atas, pantas rasanya menunjuk kemandirian sebagai momentum lahir, berjalan serta bergulirnya ilmu dan seni pembelajaran; demikian juga menunjuk ilmu dan seni pembelajaran sebagai tonggak pencarian, penciptaan serta perebutan kemandirian. Pantas pula rasanya menuduh kemandirian sebagai gara-gara munculnya huru-hara perjuangan dan dinamisasi hidup; demikian juga menuduh perjuangan dan dinamisasi hidup sebagai kambing hitam munculnya tuntutan kemandirian.

Mandiri Vs Tidak Mandiri (Bergantung) = Prihatin Vs Tidak Prihatin (Serba Ada) ?

Suatu istilah yang saling kontroversi coba dilempar untuk secara dialektis mendapat kajian yang lebih matang dan mendasar pada substansi kejuangan dan kedinamisan hidup. Yaitu dalam rangka membangun waduk-waduk mandiri dan menjebol tanggul ketidakmandirian yang ada. Terkesan menghantam memang, namun tidak harus hantam kromo. Bedanya hanya sekarang atau besok. Sebab taruhannya hanya 1, yaitu tidak mungkin tidak terjadi, itu mustahil, sebab segala yang rapuh pasti runtuh, semua hanya bicara soal waktu saja seperti layaknya bom waktu yang makin marak issue nya. Rapuh bagaimana ? Tiada yang abadi sepanjang masih ada ketergantungan membelitnya, tiada yang tanpa ketergantungan sepanjang belum tercipta kemandirian memayunginya, tiada kemandirian sepanjang labilnya kehendak mewujudkan mengelabuinya dan tiada wujud nyata sepanjang miskinnya keberanian memperjuangkan menghantuinya serta tiada perjuangan yang berhasil sepanjang kebersamaan hanyalah sebuah slogan belaka sedang keprihatinan hanya menjadi milik sebagian golongan saja. Bagaimana menurut anda ?

Manakah pilihan anda; mandiri meski prihatin ? atau serba ada mesti bergantung ? atau mandiri dan juga serba ada ? atau bergantung namun tetap prihatin ?

Lantas hendak mencari apakah anda; kemapanan di balik keprihatinan ? ataukah anti kemapanan padahal nyaris serba ada ?

Dari mana harus memulai kemandirian ? Tanpa henti-hentinya mengkaji sampai berhasil mendapati akan hal apa sebenarnya yang harus menjadi skala prioritas kemandirian bangsa namun juga yang paling sesuai dengan karakter dan budaya serta kekayaan juga sumber daya bumi pertiwi ini, dari program demi program, langkah demi langkah dan proses demi proses serta hingga cara demi cara, guna pencapaian kemakmuran dengan sebuah tonggak kemandirian serta pencapaian tujuan dan cita-cita bangsa dengan penuh kehormatan. Kajian demi kajian dan ujian demi ujian serta praktek demi praktek atas pekerjaan rumah tersebut, sudah selayaknyalah menjadi kebutuhan primer yang dikonsumsi terlebih dahulu oleh kaum akademik generasi bangsa sebagai suatu formula yang dirasa sangat bijaksana dalam mengawalinya, untuk kemudian rela berjalan seiring dan seirama bersama-sama seluruh rakyat Indonesia sendiri meski dalam wajah-wajah keprihatinan namun penuh kebahagiaan menuju puncak kemenangan berada dalam payung kemandirian dan bertutur sapa di mimbar adil-makmur-sejahtera serta beraksi di atas panggung kehormatan.

Hello world!

Posted in Uncategorized on March 13, 2009 by feenakoe

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.